Apa yang dimaksud dengan pengawetan bambu?
Untuk meningkatkan daya tahan dan
performanya bambu dan produk dari bambu perlu diawetkan, baik dengan
bahan pengawet yang bersifat kimiawi atau pun tanpa bahan kimia, dengan
cara tradisional ataupun yang lebih moderen. Adapun tujuan dari
pengawetan bambu adalah:
- Meningkatkan daya tahan dan waktu pemanfaatan bambu.
- Menahan dan menunda kerusakan
- Mempertahankan stabilitas struktur bambu dan kekuatannya
- Menambah ketahanan lain misalnya lebih tahan terhadap api.
- Meningkatkan mutu bambu secara estetika.
Mengapa bambu harus diawetkan?
Bambu
adalah bahan alami yang besifat organic. Tanpa perlakuan tertentu untuk
melindunginya, daya tahan bambu akan- Pelapukan
- Retakan atau pecah
- Timbulnya noda dan lobang
Dengan demikian pengawetan sangat penting
jika bambu dimaksudkan untuk keperluan struktur bangunan dimana
keselamatan menjadi pertimbangan yang utama. Selain itu penggantian
komponen rusak akibat tidak diawetkan akan membutuhkan waktu dan biaya.
Peningkatan usia bambu karena pengawetan akan lebih menguntungkan dalam
jangka panjang.

Sedangkan dari sisi cara pengawetan,
pilihan metode pangawetan sendiri sebenarnya sangat tergantung pada
beberapa faktor. Cara dan bahan tertentu mungkin kurang cocok atau
kurang tepat untuk diterapkan . Namun banyaknya pilihan teknik dan
metode pengawetan dapat mengcover hampir semua kebutuhan dan pemanfaatan
bambu. Berikut ini adalah berberapa faktor yang perlu dipertimbangkan
sebelum menentukan pilihan metoda dan bahan pengawet:
- Kondisi bambu yang ada (kering atau basah)
- Bentuk bambu ketika akan diawetkan apakah utuh, bambu belah atau
- sudah dalam bentuk produk kerajinan.
- Tujuan penggunaan, apakah untuk struktur atau non struktur.
- Skala pengawetan atau jumlah kebutuhan bambunya sendiri
Pengawetan Tradisional
Sumber: http://www.bambuawet.com/Tentang Pengawetan Tradisional
Yang dimaksud dengan pengawetan
tradisional di sini adalah praktik dan perlakuan terhadap yang dilakukan
olah masyakat secara turun temurun yang bertujuan untuk meningkatkan
masa pakai bambu. Berbagai cara pengawetan tersebut diantaranya berupa:
Pengendalian waktu tebang.
Adalah pengawturan waktu penebangan bambu pada saat-saat tertentu yang
menurut kepercayaan atau kebiasaan masyarakat dapat meningkakan daya
tahan bambu dibandingkan dengan penebangan pada sembarang waktu.
Pengendalian waktu tebang di Indonesia ada banyak versi, diantaranya:
- penebangan pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu.
- penebangan pada jam tertentu, misalnya penebangan dilakukan pada waktu menjelang subuh dipercaya dapat meningkatkan ketahanan bambu.
- Penebangan pada waktu tertentu, misalnya penebangan pada waktu bulan purnama dibeberapa daerah dipercaya dapat mengurangi serangan hama pada bambu.
Perendaman bambu,
bambu yang telah ditebang direndam selama berbulan-bulan bahkan tahunan
agar bambu tesebut tahan terhadap pelapukan dan serangan hama.
Perendaman dilakukan baik di kolam, sawah, parit, sungai atau di
laut.penebangan waktu pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa
jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu
yang paling tepat untuk memotong bambu. Kelemahan dari sistem ini
adalah, bambu yang direndam dalam waktu lama, ketika diangkat akan
mengeluarkan lumpur dan bau yang tidak sedap, akan butuh waktu yang
cukup lama setelah perendaman untuk mengeringkan hingga bau berkurang
dan dapat dipakai sebagai bahan bangunan.
Pengasapan bambu, selain
pengendalian waktu penebangan dan perendaman, secara tradisional bambu
juga kadangkala diasap untuk meingkatkan daya tahannya. Secara
tradisional bambu diletakkan di tempat yang berasap (dapur atau tempat
pembakaran lainnya), secara bertahap kelembaban bambu berkurang sehingga
kerusakan secara biologis dapat dihindari. Saat ini sebenarnya cara
pengasapan sudah mulai dimodernisasi, beberapa produsen bambu di Jepang
dan Amerika Latin telah menggunakan sistem pengasapan yang lebih maju
untuk mengawetkan bambu dalam skala besar untuk kebutuhan komersil.
Pencelupan dengan kapur.
Bambu dalam bentuk belah atau iratan dicelup dalam larutan kapur
(CaOH2) yang kemudian berubah menjadi kalsium karbonat yang dapat
menghalangi penyerapan air hingga bambu terhindar dari serangan jamur.
Pemanggangan/pembakaran.
Biasanya dilakukan untuk meluruskan bambu yang bengkok atau sebaliknya.
Proses ini dapat merusak struktur gla yang ada dalam bambu membentuk
karbon , sehingga tidak disenangi oleh kumbang atau jamur.
Pengawetan Moderen
Sumber: http://www.bambuawet.com/Cara Pengawetan Moderen
Yang dimaksud dengan cara pengawetan
moderen di sini adalah pengawetan yang memanfaatkan input barupa bahan
kimia. Efisiensi pengawetan kimia terhadap peningkatan umur bambu
dipengaruhi oleh struktur anatomi bambu itu sendiri. Pengawetan bambu
lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan pengawetan kayu karena kondisi
berikut ini:
- Tidak ada jalur serapan radial (horizontal ketika bambu dalam posisi tegak) sebagaimana yang dimiliki kayu, sehingga perpindahan larutan dari sel ke sel tergantung pada proses difusi secara perlahan.
- Sel batang bambu yang berperan dalam proses transportasi bahan pengawet hanya 8% dibandingkan dengan kayu lunak yang mencapai 70%, karu keras 20% atau rotan 30%, ini menyebabkan proses pengawetan bambu membutuhkan waktu yang lebih lama.
- Penyerapan radial dari bahan penawet melalui bagian kulit luar bambu terhalang oleh lapisan keras kulit bambu (cortex), sedangkan dari bagian dalam dihalangi oleh struktur lignin yang tebal.
- Meski poros vertical yang ada memungkinkan larutan mudah melewati sel bambu, namun keberadaan buku-buku diantara ruas bambu mengisolasi dan memperlambat penyerapan ke bagian lainnya.
- Ketika bambu dipotong, cairan bambu beraksi menutupi “luka” yang ada sehingga membatasi akses bahan pengawet. Sehingga bambu harus segera diawetkan ketika kondisinya masih basah.
- Dalam kondisi kering cairan bambu yang mongering di dalam batang bambu menghalangi proses difusi antar sel, sehingga memperlambat proses penyerapan pengawet.
Bahan Pengawet
Sumber: http://www.bambuawet.com/
Bahan Pengawet
Bahan
pengawet yang dimaksud di sini adalah bahan tambahan baik yang bersifat
alami maupun bahan kimia. Dalam praktiknya, pengawetan secara
tradisional seringkali menggunakan bahan-bahan alami seperti daun nimba
yang banyak diaplikasikan di India, terutama untuk pengawetan bambu
belah atau untuk keperluan anyaman.Sedangkan untuk saat ini praktik
pengawetan bambu lebih banyak menggunakan bahan kimia. Masing-masing
bahan pengawet tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri.
Berdasarkan bahan dasar pelarutnya, pengawet kimiawi dapat dibedakan menjadi dua jenis:
Pengawet berbahan dasar air.
Prinsip utama pengawet dengan bahan dasar air adalah, bahan pengawet
diserap oleh bambu ketika basah, lalu setelah kering air menguap dan
meninggalkan bahan pengawet di batang bambu. Pengawet dengan bahan dasar
air terdiri atas dua jenis yakni yang bersifat non-permanen dan
permanen. Non permanen artinya bahan pengawet dapat larut ketika
bersentuhan dengan air (contohnya boric acid), sedangkan permanen
artinya campuran dari bahan kimia tersebut memiliki komponen pengikat
yang mengikat bahan pengawet pada bambu (contohnya Copper Chrome Boron
atau CCB).
Pengawet berbahan dasar minyak.
Tar atau ter tersedia dalam bentuk larutan berwarna hitam, aplikasinya
dilakukan dengan proses tekanan atau pemanasan, karena berbahan dasar
minyak, bambu yang diawetkan akan tahan terhadap kelembaban dan air
serta tidak disenangi oleh jamur dan serangga. Penggunaan ter untuk
bambu umumnya terbatas pada aplikasi untuk luar ruangan, karena bau dan
tekstrunya yang lengket.
Berikut ini adalah bahan pengawet kimia yang paling umum digunakan untuk pengawetan bambu:
Senyawa Boron.
Merupakan kombinasi antara borax dan boric acid dengan perbandingan
1:1.4, juga tersedia dalam bentuk Disodium Octaborate. Senyawa boron
efektif melawan serangga pemakan bambu seperti kumbang bubuk, rayap dan
jamur. Kadar garamnya memiliki sifat anti api. Tidak beracun dan dapat
dipakai untuk mengawetkan keranjang, atau kerajinan lainnya yang dapat
kontak langsung dengan produk makanan. Campuran borax & boric acid.
Merupakan bahan pengawet yang paling banyak diaplikasikan untuk bambu
saat ini dan paling banyak diterima di berbagai tempat. Kelemahannya
adalah bambu yang diawetkan dengan bahan ini hanya cocok untuk bambu
yang terlindung dari paparan air secara langsung (cocok untuk dalam
ruanganan).
Catatan Tentang
Borax & Boric Acid sebagai bahan pengawet bambu. Borax dan boric
acid adalah garam mineral alami yang digunakan secara luas di dunia.
Senyawa ini dapat ditemukan pada berbagai perlengkapan rumah tangga
seperti detergen, bahan tahan api, bahkan obat tetes mata. Kebanyakan
kelompok pencinta lingkungan, arsitek dan pengembang merasa aman
menggunakan bahan ini untuk pengawet kayu dan bambu dibandingkan dengan
bahan kimia beracun.Yang perlu
selalu diingat adalah, hampir semua hal di dunia memiliki sifat aman
pada dosis tertentu tapi dapat menjadi berbahaya pada dosis yang salah.
Misalkan saja yang paling sering kita jumpai sehari hari, gula dan garam
yang merupakan penyedap makanan dan minuman , dalam dosis yang salah
dapat menimbulkan penyakit, demikian pula dengan sabun cuci yang
bermanfaat membersihkan pakaian kita, namun pada dosis tertentu dapat
menimbulkan iritasi atau jika termakan menyebabkan keracunan. Masih
banyak lagi lagi contoh lainnya. Kesimpulannya adalah segala sesuatu
dapat menjadi “aman” dan “tidak aman” tergantung dosisnya. Dengan dosis
antara 5-10% larutan boron yang direkomendasikan untuk mengawetkan bambu
masih digolongkan pada tahap yang sangat aman, bahkan jika anak anda
sampai menggigit bambu yang telah diawetkan, maka bahan pengawetnya
tidak akan meracuni atau menggangu kesehatannya. Menyentuh atau memegang
bahan bambu yang telah diawetkan dengan boron juga tidak membahayakan.
Zinc Chloride/Copper Sulphate. Jenis ini memiliki kadar asam sangat tinggi dan dapat menyebabkan korosi pada baja.
Sodium Penta Chloro Phenate (NaPCP).
Adalah fungisida yang biasanya dikombinasikan dengan borax dan boric
acid untuk melindungi bambu yang masih basah saat dikirim dalam
container. Namun bahan ini telah dilarang dibanyak Negara karena
sifatnya yang beracun.
Copper Chrome Arsenic (CCA) dan Ammoniacal Copper Arsenate (ACA.
Merupakan pengawet yang bersifat permanen dan terbukti ampuh
mengawetkan bambu hingga lebih dari 50 tahun, bahkan untuk aplikasi luar
ruangan. Tapi karena sifat toksisitasnya yang sangat tinggi bahan ini
banyak dihindari dan dilarang.
CCB (Copper Cromium Boron).
CCB dikenal efektif melindungi bambu, selain itu bambu yang diawetkan
dengan CCB dapat bertahan cukup lama sekalipun diaplikasikan diluar
ruangan yang. Namun bahan CCB juga sangat sulit ditemukan, selain itu
aplikasinya harus menggunakan sistem tekanan agar bisa efektif.
Karosete / Ter,
merupakan bahan pengawet berbasis minyak, dapat diaplikasikan untuk
penggunaan luar ruangan, kelemahannya adalah bambu yang diaplikasi
dengan bahan ini tidak cocok untuk furniture atau komponen bangunan yang
bersentuhan langsung dengan manusia karena ada unsur minyak, berbau dan
lengket. Cocok untuk aplikasi luar ruangan seperti pagar.
Metode Pengawetan
Sumber: http://www.bambuawet.com/
Berdasarkan jangka waktu dan tujuan
pemakaian bambu, metode pengawetan dapat dibagi menjadi dua jenis yakni
pengawetan untuk keperluan jangka pendek dan pengawetan untuk keperluan
jangka panjang. Di sini kita hanya akan membahas pengawetan untuk
keperluan jangka panjang.
Perendaman Pangkal Bambu.
Prinsip utama metode ini adalah penyerapan bahan pengawet oleh bambu
melalui kapiler bambu. Bambu yang baru dipoting diletakkan vertical
dalam larutan pengawet yang ditempatkan dalam drum atau tangki, hanya
sebagian dari bambu yang terendam. Waktu perendama tergantung pada
panjang bambu dan kelembabannya, umumnya antara 7 hingga 14 hari.
Panjang bambu yang cocok untuk pengawetan jenis ini adalah maksimal 2
meter. Metode ini cocok untuk mengawetkan bambu dalam jumlah kecil dan
bisa diaplikasikan pada bambu utuh maupun belah.
Perendaman Difusi. Cocok
digunakan untuk bambu utuh dan belah. Prinsip utamanya adalah proses
difusi, dimana bahan penawet masuk ke dalam bambu akibat adanya
perbedaan konsentrasi larutan dan keluarnya cairan bambu akibat tekanan
osmosis. Percepatan proses perendaman difusi dapat terjadi dengan
peningkatan kadar larutan dan pemecahan penyekat bagian dalam (buku)
bambu. Karena melalui bagian yang dipecahkan tersebut larutan pengawet
akan cepat masuk ke dalam ruas-ruas bambu yang berbeda. Pengawetan jenis
ini cocok untuk skala besar, minimal 100 batang bambu sekali proses.
Dibutuhkan kolam atau wadah yang besar untuk mengawetkan bambu dalam
jumlah banyak. Pengembangan dan alternative lain sistem ini dapat
berupa:- Perendaman dengan Pemanasan. Bambu direndam dalam larutan pengawet sambil dipanaskan untuk mempercepat proses penetrasi obatnya.
- Perendaman vertical. Bambu dilobangi, ditegakkan lalu diisi larutan pengawet. Tekanan air akan mempercepat proses penyerapan larutan pengawet. Pengawetan cara ini cocok diaplikasikan untuk bambu utuh dan panjang.
- Penggantian cairan bambu dengan bahan pengawet. Metode ini dikenal dengan proses Boucherie yang dimodifikasi. Caranya adalah dengan memberikan tekanan untuk mengeluarkan cairan yang ada pada bambu yang masih basah dan pada saat bersamaan menggantikannya dengan larutan pengawet. Metode ini membutuhkan alat seperti pompa atau tangki tekanan, pipa-pipa atau selang karet yang di tempatkan di salah satu ujung bambu. Cocok untuk pengawetan bambu utuh dan masih basah. Karena jika bambu sudah kering proses penggantian cairan tidak akan terjadi.
Pengawetan Dengan Tangki Bertekanan. Pengawetan
dengan tangki bertekanan cocok untuk bambu yang sudah kering dan dapat
memastikan penyerapan yang cepat dan sempurna. Prinsipnya adalah memaksa
bahan pengawet masuk ke dalam bambu. Bahan pengawet yang dapat
digunakan denga sistem ini adalah BoraxBoric, CCB, CCA dan Ter. Prosedur
pengawetan dengan tangki bertekanan meliputi:
- Proses vakum, bambu yang ditempatkan didalam tangki divakum untuk mengeluarkan udara yang ada.
- Proses pengisian tangki dengan bahan pengawet sekaligus memberikan tekanan pada larutan agar masuk ke dalam bambu. Proses pengisian ini juga biasaya dikombinasi dengan sistem fluktuasi tekanan, dimana tekanan dinaik-turunkan agar dapat mempercepat dan menjamin penyerapan secara sempurna.
Kelebihan metode ini adalah pada waktu
pengawetan bambu yang lebih cepat. Sedangkan kelemahannya adalah
dibutuhkan banyak peralatan yang cukup mahal.
Pengeringan Bambu
Sumber: http://www.bambuawet.com/
Pengeringan bambu membutuhkan waktu yang
lebih lama dibandingkan dengan pengeringan kayu yang memiliki kepadatan
struktur yang sama. Ini disebabkan bambu memiliki komponen yang sangat
mudah menyerap kelembaban.
Saat
bambu mulai mengering, batang bambu akan berkontraksi dan mengkerut.
Proses pengkerutan ini dimulai sejak bambu ditebang, dan dapat
mengurangi diameter bambu hingga 16% dan mengurangi ketebalannya hingga
17%. Bambu muda sebaiknya tidak digunakan untuk keperluan konstruksi,
karena tingkat pengerutannya sangat tinggi, selain itu bambu muda juga
sangat rentan terhadap serangan serangga dan organisme lain.
Bagaimana cara mengeringkan bambu?
Cara yang paling umum dilakukan untuk
kebutuhan komersil adalah pengeringan alami dengan di angin-anginkan.
Ketika bambu diangkat dari tempat pengawetan, bambu tersebut haruslah
disusun dengan baik dan disimpan di tempat yang terlindung.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan ketika mengeringkan bambu:
- Hindari bambu kontak langsung dengan tanah untuk menghindari jamur dan serangga, serta menghindari kelembaban.
- Disarankan hanya menggunakan bambu yang cukup tua, yakni yang berumur sekitar 3 tahun untuk mencegah pengerutan bambu.
- Singkirkan bambu yang terserang hama atau bubuk supaya tidak menjangkiti bambu lain.
Upayakan ada ventilasi yang baik untuk sirkulasi udara - Hindari perubahan kelembaban yang drastis, misalnya dengan menjemur bambu pada sinar matahari secara langsung, karena ini akan dapat membuat bambu retak dan bahkan pecah terutama pada bambu utuh. Pengeringan dengan matahari dapat dilakukan pada bambu belah.
- Penyimpanan secara vertical adakn dapat mengeringkan bambu lebih cepat dan menghindari kemungkinan terserang jamur. Namun bambu yang dikeringkan secara tegak terlalu lama dapat membuat bambu menjadi kurang lurus dan bengkok.
- Pengeringan secara horizontal dapat dilakukan untuk bambu dalam jumlah besar. Bambu harus diletakkan diatas struktur umpak atau alas agar tidak kontak langsung dengan tanah. Ini berguna untuk menghindari kelembaban. Disaranakn diantara tumpukan bambu diberi alas agar ada sirkulasi yang baik antara batang bambu.
- Bolak-balik bambu agar pengeringannya merata.
Waktu yang disarankan untuk pengeringan
bambu secara alami dengan diangin-angin adalah sekitar 1-2 bulan.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi proses pengeringan adalah
- Kelembaban bambu
- Ketebalan bambu
- Kelembaban udara sekitar
- Tingkat radiasi matahari
- Musim hujan/kering
- Sirkulasi dan udara
Cara penyimpanan dan pengeringan lainnya:
- Secara tradisional bambu yang dipotong dibiarkan tetap tegak dirumpunnya dan dialas dengan batu atau kayu, bambu dibiarkan hingga daunnya megering selama 3-4 minggu. Dengan cara ini pengeringan terjadi akibat transpirasi alami melalui daun.
- Menyimpan bambu di dalam air dilakukan untuk meenjaga bambu tetap basah dan hijau. Penyimpanan dalam air dapat mengeluarkan zat gula yang ada sehingga cara ini juga merupakan metode pengawetan bambu secara tradisional
- Oven Kiln Dry merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mengeringkan bambu belah atau bilah bambu. Namun cara pengeringan oven tidak dianjurkan untuk bambu utuh atau bambu bulat, karena perubahan suhu yang cepat dapat menyebabkan bambu retak dan pecah.
Tips Membeli Bambu
Sumber:http://www.bambuawet.com/
Sebelum anda membeli bambu, ada baiknya
terlebih dulu mengetahui tips dan trik berikut agar anda memperolah
bambu bermutu dan sesuai dengan kebutuhan anda, dan tidak jera atau
kapok menggunakan bahan bambu. Berikut ini beberapa pertimbangan ketika
anda akan membeli bambu:
- Cari info penjual/supplier bambu. Bisa dari situs web (mislanya dengan kata kunci pengawetan bambu atau bambu awet), atau minta rekomendasi kontraktor dan perajin bambu yang anda kenal, dll.
- Jika memungkinkan, sebaiknya anda datang langsung ke tempat penjual bambu tersebut agar dapat melihat langsung kondisi bambu yang akan anda beli, serta melihat fasilitas pengawetan, cara perlakuan terhadap bambu dan tentu saja anda akan dapat lebih detail menanyakan tentang kebutuhan bambu anda.
- Tanyakan teknis pengawetan bambu yang digunakan. Misalnya, metode pengawetannya, berapa konsentrasi larutannya, berapa perbandingan masing-masing bahan yang digunakan, berapa lama waktu pengawetan dsb.
- Tanyakan bahan pengawet apa yang digunakan. Penggunaan bahan pengawet yang tepat sangat penting dalam menjamin keawetan bambu dalam jangka panjang. Pengawet yang paling umum dan banyak direkomendasi untuk bambu adalah campruan garam boraks dan asam boric. Pengawetan pada bambu harus bersifat “racun perut”, yakni pengawetan yang meresap ke dalam batang bambu, tidak bisa dimakan oleh bubuk. Hindari membeli bambu yang diawetkan dengan “racun kontak”, karena sifat racun kontak hanya sementara, khusus dirancang untuk mengeliminasi hama ketika hama tersebut bersentuhan dengan bahan pengawetnya, selain itu dengan pertimbangan keamanan, oleh produsennya racun kontak sengaja dibuat segera menguap setelah dioles atau diaplikasikan ke produk kayu dengan tujuan agar tidak membahayakan.
- Tanyakan garansi keawetan yang diberikan. Jika bambu yang dijual diawetkan dengan benar, produsen akan berani memberikan jaminan penggantian jika bambu terserang hama (misalnya kumbang bubuk). Setidaknya minta jaminan penggantian selama tiga tahun. Meski sebenarnya bambu yang diawetkan (dengan borax dan boric misalnya) dapat tahan hingga puluhan tahun, tapi tentu saja penjual tidak akan mungkin memberikan jaminan seumur hidup terhadap produk organik seperti bambu.
- Pastikan waktu pengiriman bambu (tetapkan tanggal pengiriman). Pengawetan bambu biasanya membutuhkan waktu sekitar dua minggu (dengan perendaman), jika produsen/penjual tidak memiliki ready stock, dan anda membutuhkan bambu dalam jumlah besar untuk proyek konstruksi, umumnya dibutuhkan waktu antara 4-6 minggu untuk delivery pesanan.
- Minta saran perlakuan dan cara penyimpanan bambu yang ada beli agar keawetan bambu yang anda beli tidak berkurang karena salah perlakuan. Bambu awet yang berbahan dasar air harus disimpan di tempat terlindung dari hujan, juga terlindung dari panas agar tidak pecah.
- Jika sudah mantap dengan jawaban dan informasi yang diberikan anda bisa langsung membuat kesepakatan pembelian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar