Cari di Blog Ini

Senin, 06 Mei 2019

4 Level Hati, menurut Tafsir Quran

Ada empat istilah yang digunakan Al-Quran dalam menunjukkan makna hati, yaitu, shard, Qolb. Fuad atau afidah dan albab. Istilah-istilah inimengambarkan lapisan-lapisan hati manusia dan kecenderungannya, baik ataupun buruk. Kalau seseorang menggunakan hatinya dalam arti shard, qalb dan fuadnya, maka ia bias baik dan bias juga buruk. Tetapi kalau ia menggunakan albab, maka orang itu sudah pasti baik.

1.Shadr berarti hati bagian luar,
2.qalb berarti hati bagian dalam,
3.fuad atau afidah berarti hati yang lebih dalam, sedangkan
4.albab berarti hati yang paling dalam atau hati sanubari atau hati nurani.

Shadr

Kerena pengertiannya sebagai hati bagian luar, maka istilah sadr biasa pula diartikan sebagai dada. Hanya dada disini tidak hanya berarti fisik, tetapi juga non fisik, seperti aqal dan hati. Ini kerena menurut Amir An-Najr, sadr merupakan pintu masuknya segala macam godaan nafsu, penyakit hati dan juga petunjuk dari Tuhan. Sadr juga merupakan tempat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam dirinya manusia.
Dada adalah wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif dalam diri kita, tempat kita di uji dengan kecendrungan-kecendrungan nagatif nafsu. Kalau sisi positif itu yang dominan, maka dada dipenuhi oleh cahaya dan berada dalam pengawasan jiwa ilahi. Tapi jika sebaliknya yakni sisi negatif yang dominan, seperti dengki, syahwat, keangkuhan, atau kepedihan, penderitaan atau tragedi yang berlangsung lama, maka dada akan dilingkupi oleh kegelapan. Hati akan mengeras dan cahaya bhatiniyah menjadi redup.

Selain itu, kata “shadr” atau dada dalam bahasa Arab seakar dengan “akal”, yakni tempat seluruh pengetahuan yang dapat dipelajari dengan dikaji, dihafalkan dan usaha individual serta dapat didiskusikan, ditulis atau diajarkan kepada orang lain. Pengetahuan yang tersimpan dalam hati tersebut pengetahuan laur atau pengetahuan diuniawi, kerena ia berguna untuk mencari penghidupan dan efektif dalam menangani urusan-urusan duniawi.

Kemudian Maulana Jalaluddin Rumi menyebutkan dua proses pengetahuan itu sebagai kecerdasan utuh dan kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan buatan memiliki banyak tingkatan yang berbeda, tetapi masing-masing memperolah pengetahuannya di luar. Sedang kecerdasan utuh didapatkan dari dalam. Kemudian sebagai bukti bahwa kata shadr tidak hanya berarti dada secara fisik, tetapi juga non fisik, yaitu hati dan akal dijelaskan dalam firman Allah SWT, diantaranya terdapat surat Al-Araf ayat 2 dan Al-An’am ayat 125.

Qalb

Kemudian lapisan hati yang kedua adalah Qolb, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kalbu atau hati. Hubungan antara Qolb dengan Shadr ialah bahwa Qolb merupakan sumber mata air, sedangkan Shadr diibaratkan sebagai danaumnya, atau shadr merupakan lapangan bagi Qolb.

Nabi Muhammad bersabda bahwa ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan lidah dan pengetahuan hati, pengetahuan yang benar-benar berharga. Masyarakat modernn sekarng terdahulu menekannkan pada pengetahuan lidah, yaitu pengetahuan pengetahuan yang dipelajari, salah satu tingkat kecerdsan buatan.

Hati berisakan prinsip-prinsip pengetahuan yang mendasar. Ia bagaikan air yang mengisi kolam pengetahuan dalam dada. Hati adalah akar dan dada merupakan cabang yang diberikan makan oleh hati. Pengetahuan bathiniyah dari hati atau pengetahuan luar dari akal sama-sama penting. Pengeahuan luar mencakup informasi kita yang kita perlukan untuk bertahan, termasuk keahlian profesional, maupun kecerdasan yang dibutuhkan untuk membentuk keluarga. Ia juga diperlukan dalam upaya menjalani kehidupan yang bermoral dan etis yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.

Af’idah/Fuad

Selanjutnya lapisan hati yang ketiga adalah “fuad” atau “afidah”. Dalam bahasa Arab kata “fuad” berarti hati, tetapi letaknya lebih dalam dari Qolb, srhingga kata “fuad” biasa dikatakan sebagai “hati yang lebih dalam”

Qolb dan fuad berkaitan erat dan pada waktu tertentu hampir tidak dapat dibedakan. Qalb mengetahui, sedangkan fuad melihat. Mereka saling melengkapi, seperti halnya pengetahuan dan penglihatan. Jika pengetahun dan penglihatan dipadukan, maka yang gaib manjadi nayat dan keyakinan kita akan menjadi kuat.

Albab

Akhirnya, lapisan hati yang paling dalam ialah Albab. Kata “albab” merupakan jamak dari kata “lubb”. Dalam bahasa Arab katab “lubb” berarti racun, akal, hati, inti. Dan sari. Sedang dalam tasawwuf istilah “lubb” berarti hati terdalam atau hatinya hati.



Ref: Tasawuf Positif, karya Sudirman Teba.

emka.web.id/ke-nu-an/2011/4-level-hati-menurut-tafsir-quran/



Selasa, 14 November 2017

Cara meraih rasa tenang

Tidak dapat dipungkiri bahwa sifat tergesa-gesa dan penuh emosi seringkali merugikan diri kita sendiri. Keputusan yang diambil dengan kondisi jiwa sedang bergejolak bisa mengakibatkan dampak yang kurang menyenangkan yang kadangkala datangnya bertubi-tubi seperti gelombang. Untuk itu, idealnya dalam setiap situasi, seharusnya kita bisa menghadapi segala personalan dengan hati yang tenang dan kepala dingin, betapa pun bergejolaknya emosi yang mungkin timbul pada saat itu. Lalu bagaimana caranya meraih rasa tenang di hati agar kita tidak gegabah dalam mengambil keputusan?

Sebenarnya menurut hemat penulis, cara meraih rasa tenang itu mudah.
Pertama, rasa tenang itu bisa muncul tiba-tiba dan merupakan anugrah dari Sang Pencipta. Kalo bicara rasa tenang itu seperti apa, sensasinya di tubuh kita seperti dialiri energi lembut dari arah dada dan menyebar ke seluruh tubuh. Rasa tenang seperti ini bisa berlangsung sesaat atau pun bisa bertahan lama. Untuk bisa memeliharanya kita perlu selalu berusaha menyelaraskan hati, pikiran, dan tindakan kita sejalan dengan misi dan visi yang ingin dicapai dan tentu sesuai dengan perintahNya.

Kedua, rasa tenang yang diusahakan dengan latihan. Untuk latihannya ada banyak sekali metode yang bisa dicoba. Secara sederhana adalah bagaimana kita dapat melewati segala bentuk lintasan pikiran dan perasaan untuk sampai pada suasana hening.

Sensasinya seperti berada di tengah-tengah alam semesta yang luas tanpa batas dan terasa keheningan yang mendalam. Jika sudah terbiasa, kita dapat melakukannya kapan dan dimana saja.

Berikut ini langkah-langkahnya:
1. Carilah tempat yang cukup hening, lalu rilekskan tubuh, sebaiknya dalam keadaan duduk supaya nantinya tidak tertidur 

2. Pasrahkan diri kepada Sang Pencipta, lepaskan semua beban pada tubuh, pikiran, dan perasaan.

3. Kesadaran kita akan bergerak dari sensasi-sensasi ketubuhan serta seperti menikmati hiruk pikuk peristiwa-peristiwa yang berlalu begitu cepat, lalu emosi dan lintasan pikiran yang campur aduk. Lewati semua dengan kepasrahan dan jangan sampai terjebak mengikuti arus pikiran dan perasaan. Hal ini membutuhkan waktu 5 menit sampai 30 menit.

4. Selanjutnya kesadaran kita akan berada di area keheningan. Sensasi di area ini bermacam-macam, salah satunya seperti berada di tepi pantai yang hening.

5. Ucapkan syukur atas anugerahNya telah diberi rasa tenang.

6. Lanjutkan dengan aktivitas yang Anda ingin kerjakan dengan kesadaran tetap berada di area keheningan.

Senin, 18 September 2017

Kamis, 07 September 2017