IRHAM
ALI SAIFUDDIN
Gus
Dur Sang Pembela Kaum Pekerja
Bagi
mayoritas kalangan muda NU, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah sosok yang
paling inspiratif sekaligus memberikan energi yang luar biasa untuk berproses
pada dunia yang mereka pilih di kemudian hari. Saya termasuk pengagum berat
beliau. Kekaguman tersebut diawali oleh perkenalan nama beliau yang seringkali
di diskusikan oleh almarhum ayah saya, M. Ichsan, ketika saya baru akan lulus
SD. Sebagai kiai kampung dan aktivis NU tingkat desa di Blora, rumah kami
hampir tiap malam selalu kedatangan orang-orang yang berbincang hingga tengah
malam. Masih terlalu kecil bagi saya untuk mengikuti pembicaraan mereka. Namun
dari obrolan malam ke malam tersebut, selalu ada satu nama yang disebut, Gus
Dur. Ritual obrolan para aktivis kampung tersebut berlanjut hingga saya SMA.
Belakangan, setelah ayah saya meninggal, saya baru sadar bahwa yang mereka
bicarakan adalah seputar pergerakan kritik melawan Orde Baru. Saya
mengetahuinya dari arsip yang ditinggalkan ayah, di situ ada tulisan- tulisan
opini Gus Dur di beberapa media, termasuk Tempo. Sebagian besar dalam bentuk
fotocopy. Juga ada beberapa coretan tangan, seperti penanda kode diskusi. Arsip
tersebut sekaligus menjawab rasa ingin tahu saya di masa kecil perihal ayah
saya, M. Ichsan, yang bolak-balik berurusan dengan aparat ABRI, Koramil, Korem,
dan Kodim. Sebagai PNS rendahan, tentu sangat riskan bagi ayah saya untuk
menunjukkan sikap oposan terhadap Orba. Tapi sikap tersebut dipilih secara
sadar, karena sebagai ta’dzim kepada pimpinan. Sikap kepatuhan seorang ketua
MWC NU terhadap ketua umum PBNU. Bukan saja dipilih secara sadar, bahkan
melibatkan kiai-kiai langgar dan pemuda desa untuk mendukung pilihan yang
diambil oleh pimpinan besar—oposan atas Orba! Risikonya, ayah tak kunjung naik
pangkat, hampir dipecat, rumah dilempar molotov, hingga suatu ketika kami
sekeluarga pergi ke luar kota, lalu sepulangnya kami mendapati rumah kami sudah
berganti cat berwarna kuning.
Perkenalan
saya dengan sosok Gus Dur berlanjut secara intensif ketika saya kuliah di
Jogja, melalui tulisan-tulisan beliau tentunya. Ada satu konsistensi yang tidak
pernah pudar dari sosok KH Aburahman Wahid tersebut. Yakni, pembelaannya
terhadap hak-hak kaum minoritas dan lemah secara politik. Perlawanan terhadap
hegemoni Orde baru beliau lakukan ketika tidak banyak orang berani memulainya.
Saat itu, jangan pernah berharap bisa memiliki karir yang bagus di birokrasi
atau swasta bila mengaku sebagai orang NU. Ini salah satu dampak opisisi Gus
Dur terhadap Soeharto di saat belum ada tokoh publik sentral berani
melakukannya. Sikap oposan Gus Dur tersebut menghalangi peluang anak muda NU
untuk meniti profesi di pemerintahan. Tetapi, perlu dicatat, langkah tersebut
menjadi pemantik reproduksi kader yang paling massif dalam sejarah perjalanan
NU, bahkan mungkin belum ada satu pun ormas yang mengalaminya. Mulai saat itu,
anak-anak muda NU aktif di dunia pergerakan. Bahkan dunia LSM saat itu penuh
riuh dengan anak-anak muda NU. Tentu ini pergerakan sosial besar yang tidak
bisa dilepaskan dari sosok Gus Dur. Sosok Gus Dur seperti hadir dalam setiap
perjalanan hidup saya, dari masa kecil, hidup di dunia pergerakan kampus,
hingga suatu ketika saya akhirnya benar-benar bertemu langsung dengan beliau.
Saat
itu tahun 2004, untuk keperluan melamar beasiswa S2 saya menyengajakan diri
sowan Gus Dur ke PBNU. Saya minta restu, tapi beliau malah mentertawakan saya.
“Kalau minta restu, kamu salah alamat. Lebih baik datang ke kiai-kiai kampung
yang lebih sholeh. Kalau datang ke saya itu untuk minta rekomendasi saja,” kata
Gus Dur. Tentu saja ini sangat mengejutkan saya. Sebagai orang biasa dan bukan
darah biru pesantren atau grade pertama NU, tentu saya tidak akan berani untuk
minta rekomendasi tertulis dari Gus Dur. Tapi beliau malah menawarkan diri.
Tidak itu saja, beliau juga langsung menelpon Pak Mahfud MD dan Pak Alw Shihab
untuk menerima saya dan memberikan rekomendasi tertulis. Luar biasa! Saya
mendapatkan rekomendasi tertulis dari ketiga tokoh tersebut. Ketika akhirnya saya
bekerja di International Labour Organization (ILO), hingga sekarang, saya baru
merasakan kehadiran Gus Dur di ‘dunia lain’, dunia yang selama ini tidak
terlalu tampak di muka publik seperti pembelaan terhadap keyakinan minoritas.
Gus Dur ternyata memiliki rekam jejak yang luar biasa terkait pembelaannya
terhadap kelas pekerja/buruh! Pembelaan ini dilakukan Gus Dur secara konsisten
jauh hari sebelum beliau menjadi Presiden RI hingga menjelang akhir hayat
beliau. Dalam catatan aktivis buruh Muchtar Pakpahan, misalnya, Abdurrahman
Wahid menjadi salah satu tokoh sentral dalam pertemuan nasional aktivis buruh
pada tahun 1992. Saat itu karena kebijakan penyeragaman dan kontrol Orde Baru,
hanya ada satu organisasi buruh yang dibolehkan oleh pemerintah, yakni SPSI.
Menjadi penjamin dan inisiator pertemuan di luar mainstream seperti itu tentu
bukan perkara yang mudah bagi Gus Dur. Menurut kesaksian Muchtar Pakpahan,
arena pertemuan buruh tersebut sudah dikepung oleh tentara.
Dari
pembicaraan Handy Talky (HT) Muchtar mendengar inteljen melapor ke atasan bahwa
“di dalam arena selalu ada gajah yang tak pergi-pergi.” Sosok tersebut adalah
Gus Dur. Ternyata pertemuan tersebut tidak jadi dibubarkan dan melahirkan
organisasi buruh baru, yakni SBSI. Sejak saat itu Muchtar dan SBSI yang
dipimpinnya dicap sebagai organisasi terlarang, diperlakukan seperti Orba
memperlakukan PKI. Gus Dur seringkali memberikan perlindungan kepada
aktivis-aktivis buruh yang dikejar-kejar aparat Orba saat itu. Bahkan, Muchtar
Pakpahan seperti mendapat waktu khusus di PBNU karena setiap saat berdiskusi
dan melaporkan perkembangan kepada Gus Dur yang saat itu menjadi Ketua Umum
PBNU. Perhatian Abdurrahman Wahid terhadap kelas pekerja tidak redup ketika ia
berhasil menduduki kursi kepresidenan. Pada masa Gus Dur, setiap tahun gaji PNS
mengalami kenaikan. Tidak hanya itu saja, Gus Dur juga menaikkan gaji guru
hingga 150%. Saat itu guru merupakan PNS yang paling dipandang sebelah mata,
karena gajinya paling kecil. Kebijakan Gus Dur memberikan pijakan atas upaya
profesionalisasi guru di masa kemudian. Saat ini bisa kita lihat, guru
merupakan profesi yang menjanjikan semenjak ada kebijakan tunjangan profesi
melalui sertifikasi guru. Guru yang tersertifikasi bisa bergaji lebih besar
meski ia belum berstatus PNS. Selanjutnya, Gus Dur sebenarnya layak disebut
sebagai Bapak Jaminan Sosial Indonesia.
Saat
itu Indonesia terkenal sebagai salah satu dari sedikit negara di dunia yang
tanpa jaminan sosial bagi warga negaranya. Dalam kapasitasnya sebagai Kepala
Negara, Abdurrahman Wahid dalam Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2000 mencetuskan
perlunya bagi Indonesia untuk mengembangkan konsep Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN). Kini setelah 14 tahun berlalu, akhirnya rakyat Indonesia
memiliki jaminan nasional dengan diberlakukannya UU BPJS per 1 Januari 2014.
Tentu ini merupakan salah warisan dari Gus Dur yang memberikan pondasi bagi
perlindungan kesehatan yang inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. Bila dulu
hanya orang-orang kaya saja yang memiliki jaminan sosial, sebentar lagi kelas
buruh pun mendapatkan jaminan yang sama dari negara. Gus Dur juga tercatat
sebagai Presiden RI yang paling peduli terhadap nasib buruh migran atau lebih
dikenal sebagai TKI. Gus Dur selalu menempatkan 1 nyawa warga negara yang
terancam di luar negeri sebagai pertaruhan martabat bangsa. Tahun 1999, ketika
seorang TKI asal Bangkalan Madura mendapatkan ancaman hukuman mati di Arab
Saudi, Gus Dur selaku Presiden RI turun tangan langsung dengan menulis surat
resmi kepada Raja Arab Saudi untuk keringanan hukuman. Bahkan Gus Dur juga
menelpon langsung Sang Raja. Akhirnya hukuman mati dibatalkan oleh Raja,
diperingan dengan hukuman lainnya. Pembelaan Gus Dur terhadap TKI tidak
berhenti setelah beliau dilengserkan dari kursi kepresidenan. Beliau pernah menampung
puluhan TKI yang dideportasi dari Malaysia dan tidak mendapatkan gaji.
Bukan
saja menampung mereka, Gus Dur bahkan melakukan lobi langsung untuk
menyelesaikan gaji TKI yang tidak dibayar. Pembelaan terhadap TKI dari ancaman
hukuman mati juga pernah dilakukan oleh Gus Dur ketika seorang TKI asal Lombok
Tengah, Adi bin Asnawi mendapat vonis hukuman gantung dari pengadilan Malaysia.
Mendapatkan laporan dari keluarga Adi, Gus Dur langsung bertolak ke Malaysia
untuk menemui langsung Perdana Menteri Malaysia saat itu, Abdullah Badawi, guna
memperingan hukuman. Akhirnya Adi bisa menghirup udara tanah air pada tanggal 9
Januari 2010, satu minggu setelah Gus Dur wafat. Adi tidak sempat mengucapkan
terima kasih secara langsung kepada Gus Dur. Satu hal lagi yang tidak banyak
diketahui oleh publik adalah pembelaan Gus Dur terhadap hak-hak pekerja rumah
tangga (PRT) atau lebih sering disebut sebagai pembantu tersebut. Seorang
aktivis kawakan advokasi PRT, Lita Anggraini, pernah menuturkan kepada saya
bahwa Gus Dur memberikan dukungan atas perjuangan PRT untuk mendapatkan
pengakuan sebagai pekerja. Gus Dur bahkan menyumbang perangkat komputer kepada
LSM tersebut ketika harga komputer masih belum terjangkau. Pembelaan Gus Dur
terhadap hak-hak PRT juga beliau tunjukkan secara langsung dengan datang ke
kantor ILO Jakarta pada tahun 2005. Saat itu beliau datang untuk menegaskan
betapa sentralnya peran PRT dalam bagi sektor ketenagakerjaan. Ironisnya PRT
masih mengalami diskriminasi dan tidak diakui sebagai pekerja. Ini tentu
sesuatu yang sangat berarti bagi PRT, di saat banyak aktivis sekaliber aktivis
HAM sekalipun yang masih tidak terbuka terhadap pembelaan PRT, Gus Dur
melakukan pembelaan secara konsisten. Akhirul kalam, dari sekelumit jejak
rekamnya tersebut, Gus Dur sebenarnya layak menyandang gelar sebagai Bapak
Buruh Nasional, bukan saja tokoh pluralisme seperti yang kita kenal. Terima
kasih Gus, semoga kami dapat mewarisi sedikit perjuanganmu. Hanya itu yang bisa
kita lakukan, bukan? IRHAM ALI SAIFUDDIN, adalah GUSDURian dan bekerja di ILO
r masih belum terjangkau. Pembelaan Gus Dur terhadap hak-hak PRT juga beliau tunjukkan secara langsung dengan datang ke kantor ILO Jakarta pada tahun 2005. Saat itu beliau datang untuk menegaskan betapa sentralnya peran PRT dalam bagi sektor ketenagakerjaan. Ironisnya PRT masih mengalami diskriminasi dan tidak diakui sebagai pekerja. Ini tentu sesuatu yang sangat berarti bagi PRT, di saat banyak aktivis sekaliber aktivis HAM sekalipun yang masih tidak terbuka terhadap pembelaan PRT, Gus Dur melakukan pembelaan secara konsisten. Akhirul kalam, dari sekelumit jejak rekamnya tersebut, Gus Dur sebenarnya layak menyandang gelar sebagai Bapak Buruh Nasional, bukan saja tokoh pluralisme seperti yang kita kenal. Terima kasih Gus, semoga kami dapat mewarisi sedikit perjuanganmu. Hanya itu yang bisa kita lakukan, bukan?
IRHAM ALI SAIFUDDIN, adalah GUSDURian dan bekerja di ILO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar